Imam An-Nasaāi menerima tuduhan sebagai bagian dari Syiāah. Tidak hanya karena karyanya tersebut, tuduhan itu diberikan kepada penyusun kitab Sunan An-NasaāI ini karena pendapatnya yang dianggap menghina Muawiyah. Kala itu, penduduk Syiria bertanya pendapat Imam An-Nasaāi tentang keutamaan Muawiyah. Kemudian Imam An-Nasaāi menjawab
MasajiAntoro >> Memang,, ada pendapat yang sama dengan pendapat Imam maalik yaitu pendapat Imam al-Auzaaāi. 5 Audio 256 Download 53 Kalam Salaf 51 Meme Islami 79 Video 405 Sejarah 93 Biografi Ulama 334 Kisah Islami . Mari
Imam Al-AuzaĆ¢ā¬ā¢i (88 H (706/707 M) Ć¢ā¬ā 157 H (773/774 M)) adalah ulama ahlussunnah dan eponim bagi mazhab fikih Auza'i. Nama lengkapnya adalah Abdurrahman bin Amr bin Yuhmad Al-AuzaĆ¢ā¬ā¢i. Al-AuzaĆ¢ā¬ā¢i adalah nisbah ke daerah Al-AuzaĆ¢ā¬ā¢, salah satu wilayah di Damaskus.
alfrednobel penemu, by the year alfred nobel had become a chemist, what was bofor's main business under alfred nobel, alfred nobel menemukan dinamit pada tahun, short biography of alfred nobel, biografi alfred nobel dalam bahasa inggris, alfred bernhard nobel was a swedish chemist, engineer, innovator, and ornament
3 Biografi imam mazhab: Imam Asy Syafiāi. Imam Asy Syafiāi atau Muhammad ibn Idris Asy Syafiāi, dilahirkan di Gaza pada Tahun 150H/757M, dan meninggal di Kairo pada tahun 204 H/ 820 M. Dia punya silsilah kefamilian degan Nabi, dari keturunan Mutthalib ibn Abdil Manaf, dilahirkan sebagai seorang yatim. Sejak kecil Imam Syafiāi dia tumbuh
IzPE9. 1. NAMA DAN TANAH KELAHIRAN Adalah Abu Amru Abdurrahman bin Amru bin Muhammad Al-Auzaāi Ad-Dimasyqi, ulama ahli fiqh besar dari Syam . Madzhab yang didirikan ulama yang akrab disebut Imam Abdurrahman Al-Auzaāi itu sempat bertahan selama 220 tahun sebelum tergusur oleh madzhab lain yang lebih populer. Madzhab ini banyak diamalkan pada kisaran tahun ke-2 Hijrah sampai pertengahan abad ke-3 Hijrah di negeri Syam sekarang Lebanon, Yordania, Syiria, Palestina. Dinamakan madzhab al-Auzaāie karena penisbatan kepada Imam madzhab ini, yaitu Imam Abdurrahman bin Muhammad Al-Auzaāie. Lahir di Baālabak, salah satu daerah di Lebanon pada tahun 88 Hijriyah. Dan penisbatan al-Auzaāie adalah penisbatan suku asli dari ayahnya yang merupakan berasal dari suku al-Auzaā [Ų§ŁŲ£ŁŲ²Ų§Ų¹], suku asli yang mendiami Bab-al-Faradis, sebelah selatan Beirut yang berbatasan dengan Suriah. dan wafat di kota yang sama pada tahun 157 Hijrah. Ahmad Amin, sejarawan kontemporer dari Mesir, mengatakan Imam Al-Auzaāi berasal dari suku Auzaā, salah satu sub kabilah Hamdan yang berdomisili di Arab Selatan. Sementara Shihabuddin Abu Abdillah Yaāqub bin Abdullah Al-Hamawi, sejarawan masa kejayaan Dinasti Abbasiyyah mengatakan, Al-Auzaā adalah salah satu kabilah di Yaman yang kemudian hijrah ke Syam. Daerah baru tersebut kemudian dikenal juga dengan nama Al-Auzaā. Di desa Auzaā itulah Imam Abdurrahman Al-Auzaāi lahir pada tahun 88 H. Kebetulan pada masa itu masih ada sebagian sahabat Nabi SAW yang masih hidup. Sejak kecil Imam Al-Auzaāi dikenal gigih menuntut ilmu dari para ulama. Ia pernah mengembara sampai Yamamah, Makkah, Basrah, Damaskus dan Beirut. Imam al-Zirikli dalam kitabnya al-Aālam mengutip pernyataan Shalih bin Yahya, yang ini juga tertulis dalam tarikh Baghdad, beliau mengatakan āImam al-Auzaāie adalah orang yang punya kedudukan luhur bagi warga Syam. Bahkan perintahnya lebih ditaati dibanding perintah penguasa ketika ituā. Beliau hidup semasa dengan Imam Jaāfar al-Shadiq 148 H, Imam Robiāah 136 H di Mekkah, Imam Abu Hanifah di Baghdad 150 H, Imam al-Laits bin Saād 175 H di Mesir, Imam Sufyan al-Tsauri 161 H, dan beberapa ulama pada akhir abas ke-2 Hijrah. 2. PERKEMBANGAN MADZHAB AL-AUZAāIE Madzhab Al-Auzaāi dikembangkan oleh murid-muridnya, seperti Imam Malik dan Sufyan bin Uyainah, sebelum kedua tokoh itu mendirikan madzhabnya sendiri. Madzhab Al-Auzaāi sempat diamalkan orang di Syam Syiria selama 220 tahun sebelum terdesak oleh madzhab Syafiāi. Madzhab tersebut juga pernah berkembang di Andalusia, namun akhirnya tergantikan oleh madzhab Maliki. Fatwa dan pemikiran Al-Auzaāi sebenarnya belum pernah terkodifikasi mudawwan dalam satu buku tersendiri. Salah satu tokoh berkembangannya madzhab ini ialah Abdurrahman bin Ibrahim 245 H dari keluarga Umawi penguasa ketika itu, yang menyebarkan madzhab al-Auzaāie dengan posisinya sebagai Gubernur Yordan serta Palestina ketika itu. Dan juga, yang masyhur ialah Shoāshoāah bin Salam bin Abdullah al-Dimasyqa 190 H yang membawa madzhab ini ke Andalus, yang mana beliau juga seorang khathib di Qurthuba. Pemikiran Imam yang bersahaja itu tersebar di banyak kitab seperti Ikhtilaf Al-Fuqaha karya Ibnu Jarir Ath-Thabari dan Al-Umm karya Imam Syafiāi. Dalam Al-Umm, Imam Syafiāi mengulasnya secara khusus dalam satu bab tersendiri yang bertajuk kitab siyarul Auzaāi, yang berisi perdebatan antara Imam Hanafi dan ulama Hanafiah dengan Imam Al-Auzaāi. Kitab lain yang memuat pendapat Al-Auzaāi antara lain Muqaddimah al-Jarh wat Taādil karya Abu Hatim, Tarikh Damsyiq karya Ibnu Asakir Ad-Dimasyqi dan Al-Bidayah wan Nihayah karya Abul Fida Muhmmad ibn Katsir Ad-Dimasyqi. Keilmuan Imam Al-Auzaāi begitu membekas di hati rakyat Beirut hingga saat ini. Terbukti salah satu akademi studi Islam di kota itu yang didirikan pada tahun 1980an diberi nama Kulliyah Al-Imam Al-Auzaāi lid Dirasa al-Islamiyyah, Akademi Studi Keislaman Imam Al-Auzaāi. 3. METODE FIQH AL-AUZAāIE Sheikh Muhammad al-Khudhari Bik dalam kitabnya Tarikh al-Tasyriā al-Islami memberikan sedikit ciri khas yang dimiliki oleh madzhab al-Auzaāie ini, yaitu mereka sangat benci sekali dengan Qiyas dalam fiqih mereka. Corak ini jelas terpengaruh oleh Imam al-Auzaāie sendiri yang merupakan seorang Muhaddits Ahli Hadits. Menurut Syaikh Muhammad Fauzi, guru besar ilmu fiqih kontemporer di Damaskus, Imam Al-Auzaāi termasuk tokoh yang mengedepankan nash hadits dan menolak penggunaan logika dalam bentuk qiyas. Demikian juga yang diceritakan oleh Imam Syafiāi dalam kitab Al-Umm-nya. Dalam salah satu nasehat kepadanya kepada Baqiyah bin Al-Walid, Imam Abdurrahman Al-Auzāai mengatakan, āWahai Baqiyah, janganlah kamu membicarakan salah seorang sahabat Nabi kecuali mengenai kebaikannya. Sesungguhnya ilmu itu adalah apa yang datang dari sahabat Nabi, maka yang datang dari selain mereka bukan merupakan ilmu ā . Kata āyang bukan dari sahabat nabiā tersebut ditujukan kepada fatwa berdasarkan qiyas 4. GURU-GURU IMAM AUZAāIE Guru-gurunya kebanyakan para tabiāin yang mempelajari ilmunya langsung dari para sahabat Rasulullah SAW. Mereka antara lain Athaā bin Abi Rabbah mufti Makkah, Muhammad bin Sirin wafat 110 H, mufti Basrah, Imam Muhammad Al-Baqir ulama kalangan ahlul bait, Muhammad bin Muslim bin Syihab Az-Zuhri wafat 124, muhaddits dan mufti Madinah, Yahya bin Abu Katsir, Ismail bin Ubaidillah bin Abul Muhajir, Muthāim bin Al-Miqdam, Umar bin Haniā, Muhammad bin Ibrahim, Salim bin Abdullah, Syadad Abu Ammar, Ikrimah bin Khalid, Alqamah bin Martsad, Maimun bin Mihran, Nafiā maula Ibnu Umar, dan masih banyak lagi. Al-Abbas bin al-Walid menceritakan kenangan guru-gurunya tentang masa kecil Al-Auzaāi. Menurut mereka Abdurrahman Al-Auzaāi pernah bercerita, āAyahku meninggal ketika aku masih kecil. Pada suatu hari aku bermain-main dengan anak-anak sebayaku, maka lewatlah seseorang dikenal sebagai seorang syaikh yang mulia dari Arab, lalu anak-anak lari ketika melihatnya, sedangkan aku tetap di tempat. Lantas Syaikh tersebut bertanya kepadaku, Kamu anak siapa?ā Akupun menjawabnya. Kemudian dia berkata lagi, Wahai anak saudaraku, semoga Allah merahmati ayahmu.ā Lalu Syaikh itu mengajakku kerumahnya, dan aku tinggal bersamanya sehingga aku baligh. Syaikh itu juga mengikutsertakan aku dalam dewan mahkamah pengadilan untuk bermusyawarah dan juga ketika pergi bersama rombongan ke Yamamah. Ketika sampai di Yamamah, aku masuk ke dalam masjid jamiā. Dan saat keluar dari masjid seorang temanku berkata kepadaku, Saya melihat Yahya bin Abi Katsir salah seorang ulama Yamamah kagum kepadamu dan mengatakan, Tidaklah saya melihat di antara para utusan itu ada yang lebih mendapatkan petunjuk daripada pemuda itu!ā Al-Auzaāi berkata, Kemudian aku bermajelis dengannya dan menulis ilmu darinya hingga 14 atau 13 buku, tetapi kemudian semuanya habis terbakar.ā 5. PUJIAN ULAMA TERHADAP IMAM AUZAāIE Perihal keilmuannya, banyak ulama yang bersaksi akan ketinggian dan keluasan pengetahuan sang sang Imam. Ummayyah berkata, āSungguh telah terkumpul pada diri Al-Auzaāi sosok seorang ahli ibadah, ulama yang alim dan orang yang jujur.ā Imam Malik berkata, āAl-Auzaāi adalah seorang imam yang diikutiā. Ibnul Mubarok berkata, āKalau saya disuruh memilih pemimpin untuk umat ini, maka saya akan memilih Sufyan ats-Tsauri dan al-Auzaāi. Dan jika disuruh memilih di antara keduanya, maka saya akan memilih al-Auzaāi karena dia lebih lembut.ā Hal seperti ini juga dikatakan Abu Usamah. Abdurrahman bin Mahdi berkata, āManusia pada zaman itu merujuk kepada empat orang Hammad bin Zaid di Bashrah, Sufyan ats-Tsauri di Kufah, Imam Malik di Hijaz dan Al-Auzaāi di Syam. Imam Muhammad bin Idris Asy-Syafiāi, pendiri madzhab Syafiāi, mengatakan, āSaya tidak pernah melihat seorang laki-laki yang ilmu fiqihnya seluas ilmu haditsnya seperti Al-Auzaāi.ā Demikianlah, tak hanya dikenal sebagai ulama yang alim, Imam Abdurrahman Al-Auzaāi juga termasyhur dengan keshalihan dan ketaqwaannya. Perihal ketaqwaan Al-Auzaāi, sebagian penduduk kota Beirut menceritakan, suatu hari ibunya memasuki rumah sang imam dan memasuki kamar shalatnya. Sang ibu mendapati tempat shalat Imam Al-Auzāai basah karena sisa air mata tangisan malam harinya. Ketika berita keluasan ilmunya tersebar, para penuntut ilmu pun berduyun-duyun datang dan belajar kepada Imam Al-Auzaāi. Di antara mereka tercatat Syuābah, Sufyan Ats-Tsauri, Yunus bin Yazid, Malik, Ibnul Mubarok, Abu Ishaq Al-Fazari, Yahya Al-Qadhi, Yahya Al-Qaththan, Muhammad bin Katsir, Muhammad bin Syuāaib dan masih banyak lagi. 6. SEBAGIAN FATWA IMAM AUZAāIE Beberapa fatwa Imam Al-Auzaāi adalah sebagai berikut Apabila air ābaik sedikit maupun banyakā terkena sesuatu yang mengandung najis lalu air itu tidak berubah warna, rasa maupun baunya, maka ia tidak najis. Dasar pendapat ini adalah hadits tentang badui yang kencing di masjid yang belakangan diriwayatkan oleh jamaah kecuali Imam Muslim dan hadits tentang kesucian air sumur yang belakangan diriwayatkan oleh Imam Ahmad, Abu Dawud, At-Tirmidzi, An-Nasaāi dan Asy-Syafiāi Fatwa lainnya, apabila bagian bawah sepatu terkena najis, lalu digosok-gosokkan ke tanah hingga najisnya hilang, maka sepatu itu telah suci dan seseorang boleh melaksanakan sambil mengenakan sepatu itu. Dasar fatwa ini adalah hadits yang diriwayatkan oleh Abu Said Al-Khudri, bahwasannya Nabi SAW bersabda, āApabila seseorang diantara kalian datang ke masjid, maka hendaklah ia membalikkan alas kakinya. Jika ia melihat ada najis, hendaklah ia mengusap-usapkan ke tanah kemudian melaksanakan shalat sambil mengenakannya.ā 7. NASIHAT-NASIHAT IMAM AL-AUZA'IE Ada beberapa nasihat yang pernah disampaikan Imam Al-Auzaāie, antaranya ialah beliau pernah mengatakan kepada Walid bin Mazid, āApabila Allah menghendaki keburukkan untuk sesuatu , Allah membuka satu pintu suka berdebat dan Allah sulitkan mereka untuk beramal.ā Beliau juga menjelaskan akidah Ahli Sunnah. Sebagaimana yang diceritakan oleh Muhammad bin Katsir Al-Mashishi bahawa mendengar Al-Auzaāie mengatakan, āKami para tabiāin semuanya berpendapat bahawa Allah berada di atas Arsy, dan kami beriman terhadap semua keterangan tentang Allah yang terdapat dalam sunnah.ā Beliau menasihatkan agar manusia sentiasa berpegang dengan sabda Nabi SAW. Sebagaimana diriwayatkan Amir bin Yasaf bahawa beliau mendengar Al-Auzaāie mengatakan, āApabila kamu mendengar hadis dari Nabi SAW, janganlah kamu mengambil pendapat orang lain, kerana beliau adalah mubaligh iaitu peyampai berita dari Allah.ā Beliau juga menasihatkan āTidaklah seseorang berbuat bidaāah kecuali pasti akan dicabut sifat waraknya.ā Dari Abu Ishaq Al-Fazari, bahwa Al-Auzaāie mensihatkan, āAda lima hal yang dipegangi para sahabat dan tabiāin, berpegang teguh dengan pemerintah, mengikuti sunnah, memakmurkan masjid, solat berjemaah, membaca Al-Quran dan berijtihad.ā Ibnu Syabur mengatakan bahawa Imam Al-Auzaāie pernah menasihatkan ; āBarang siapa mencari pendapat yang aneh yang menyimpang dari para ulamaā niscaya dia akan keluar daripada islam.ā Walid bin Mazid menceritakan bahawa Al-Auzaāie mengatakan, āCelakalah orang yang mendalami ilmu untuk masalah selain ibadah dan orang yang berusaha menghalalkan hal yang haram dengan syubhatā Beliau juga pernah berpesan dengan satu perkataan yang indah dan cukup terkenal. Sebagaimana diriwayatkan oleh Walid bin Mazid, beliau mendengar Imam Al-Auzaāie mengatakan, Ų¹ŁŁŁŁŁŁŁ ŲØŁŲ§Ų«ŁŲ§Ų±Ł Ł
ŁŁŁ Ų³ŁŁŁŁŁ ŁŲ„ŁŁŁ Ų±ŁŁŁŲ¶ŁŁŁ Ų§ŁŁŲ§Ų³Ł ŁŁŲ„ŁŁŲ§ŁŁ ŁŁŲ±ŁŲ£ŁŁŁ Ų§ŁŲ±Ų¬ŁŲ§ŁŁ ŁŁŲ„ŁŁŁ Ų²ŁŲ®ŁŲ±ŁŁŁŁŁŁŁ ŲØŲ§ŁŁŁŁŁŁŁŁ ŁŁŲ„ŁŁ Ų§ŁŁŲ£ŁŁ
ŁŲ±Ł ŁŁŁŁŲ¬ŁŁŁŁ ŁŁŲ£ŁŁŁŲŖŁ Ų¹ŁŁŁŁ Ų·ŁŲ±ŁŁŁŁŁ Ł
ŁŲ³ŁŲŖŁŁŁŁŁŁ
Ł āBerpegang teguhlah dengan atsar riwayat para ulama salaf, meskipun masyarakat menolakmu. Jangan mengikuti pemikiran manusia, meskipun mereka menghiasi ucapannya. Sesungguhnya, semua perkara akan nampak dalam keadaan engkau berada di jalan yang lurus.ā 8. PUNAHNYA MADZHAB AUZAāIE Sayangnya, di pertengahan abad ke-3, madzhab ini perlahan mulai hilang dan ditinggalkan serta tidak ada lagi yang mengamalkan. Salah satu penyebabnya adalah masuknya madzhab Imam al-Syafiāi di awal abad ke-3 ke Syam, yang akhirnya menggerus madzhab al-Auzaāie. Kalau di Andalus, madzhab initergerus oleh eksistensinya madzhab al-Malikiyah di pertengahan abad ke-3 tersebut. Tapi kalau diteliti lebih dalam, punahnya madzhab ini bukan hanya karena adanya madzhab baru yang datang, tapi kerena memang tidak adanya budaya pelestarian ilmu dengan tulisan yang dilakukan oleh para murid dan pengikut Imam al-Auzaāie. Mereka hanya mengamalkan tanpa mengabadikan. Akhirnya kita sulit untuk melihat fiqih dan corak ushul madzhab al-Auzaāie serta fatwa-fatwa beliau. Tapi kita akan masih mendapati beberapa pendapat fiqih beliau di beberapa kitab fiqih Muqaranah Madzhab seperti Kitab Bidayatul-Mujtahid karangan Imam Ibnu Rusyd, atau juga kitab al-Majmuā karangan Imam al-Nawawi, serta kitab Badaāi al-Shanaāie karangan Imam al-Kasani dari kalangan al-Hanafiyah. Selain fatwa-fatwa fiqih, Imam Al-Auzaāi yang juga terkenal sebagai ahli sastra juga sering menyampaikan nasehat-nasehatnya dalam bahasa yang indah. Diantara nasehatnya adalah, āBarangsiapa yang lebih banyak mengingat kematian maka kehidupan cukup mudah baginya mencari bekal dengan beramal shalih. Dan barangsiapa berucap dengan ilmunya maka dia akan sedikit bicara.ā Al-Auzaāi juga berkata, āBarangsiapa yang lama dalam shalat malam, maka Allah akan memudahkan urusannya dan menaunginya pada hari kiamatā. Al-Walid bin Mazid mendengar Al-Auzaāi berkata, āApabila Allah menghendaki suatu kaum kejelekan, maka Allah akan membukakan baginya pintu berdebat dan enggan untuk beramal.ā Dan juga berkata, āSesungguhnya orang Muāmin itu sedikit bicara banyak beramal dan orang munafiq itu banyak bicara dan sedikit beramal.ā Penguasa Dinasti Abbasiyah, Abu Jaāfar Al-Manshur meminta Al-Auzaāi menuliskan nasehat untuknya. Maka sang imam pun menulis, āAmma baādu, wajib atasmu untuk bertaqwa kepada Allah. Rendah hatilah maka Allah akan mengangkatmu pada hari ketika Allah merendahkan orang-orang yang sombong di duniaā¦āTak hanya termasyhur di kalangan fuqaha, Imam Al-Auzaāi yang sangat shalih dan waraā itu juga terkenal di kalangan ahli maārifat. Ketika ia wafat, misalnya, Muhammad bin Ubaid sedang bersama Sufyan ats-Tsauri ketika datang seorang laki-laki, dia berkata, āSaya bermimpi raihanah tumbuhan berbau harum yang berasal dari daerah Maghrib diangkat.ā Mendengar hal itu Sufyan Ats-Tsauri menimpali, āJika mimpimu benar, sungguh Al-Auzaāi telah wafat.ā Mereka lalu menulis surat untuk menanyakan hal itu, dan ternyata memang benar demikian. Ada beberapa versi tentang penyebab kematiannya. Yang paling populer adalah setelah selesai mengecat sesuatu, Imam Al-Auzaāi masuk kamar mandi yang ada di rumahnya. Kemudian istrinya masuk membawa tabung yang berisi arang dan menyalakannya agar sang suami tidak kedinginan di dalamnya. Setelah itu sang istri keluar dan menutup pintu kamar mandi tersebut. Ketika asap arang itu menyebar, Imam Al-Auzaāi pun menjadi lemas. Ia berusaha membuka pintu, tetapi tidak berhasil dan terjatuh. āKami menemukannya dalam keadaan tangan menghitam dan menghadap ke arah kiblat,ā kata salah seorang saksi. Sebagaimana para sufi dan ulama salaf lain yang hidupnya sangat bersahaja, Imam Abdurrahman Al-Auzaāi pun tidak meninggalkan harta warisan kecuali uang sebanyak 6 dinar. Sang Imam wafat pada bulan Shafar 157 H. Ada juga sebagian kecil ulama yang mengatakan pada tahun 153 H.
Imam Al-Auzaāi 88 H 706/707 M ā 157 H 773/774 M adalah ulama ahlussunnah dan eponim bagi mazhab fikih Auza'i. Nama lengkapnya adalah Abdurrahman bin Amr bin Yuhmad Al-Auzaāi. Al-Auzaāi adalah nisbah ke daerah Al-Auzaā, salah satu wilayah di Damaskus. Menurut Adz-Dzahabi, dia adalah seorang "Syaikh Islam, 'alim wilayah Syam." Dia bertempat-tinggal di Al-Auza', sebuah kampung kecil di daerah Bab al-Faradis, di dekat Damaskus, kemudian dia pindah ke Beirut, hingga dia meninggal di sana.[1] Dia dilahirkan pada tahun 88 H dan mengalami masa kanak-kanak dalam keadaan yatim. Ia melakukan perjalanan menuntut ilmu rihlah menuju Yamamah dan Bashrah. Tidak banyak karya pribadinya yang masih bertahan dan dapat ditemukan pada saat ini, meskipun begitu berbagai perkataannya masih dapat ditemui dari nukilan-nukilan yang terdapat pada kitab-kitab karya muridnya dan para ulama sesudahnya. Abu Zurāah mengatakan tentangnya, āPekerjaan dia adalah menulis dan membuat risalah. Risalah-risalah dia sangat menyentuh.ā Ia begitu dihormati oleh Khalifah Al-Manshur dan pernah ditawari untuk menjadi hakim qadhi oleh Khalifah namun Al-Auza'i menolaknya. Di akhir hayatnya, ia berangkat ke Beirut untuk melaksanakan tugas ribath menjaga daerah perbatasan dan wafat di sana. Dikatakan warisan yang ia tinggalkan hanya enam dinar yang merupakan sisa dari sedekah yang dia berikan.
Nama beliau adalah Abdurrahman bin Amr bin Yahya Al-Auzaāi. Beliau dikenal dengan nama nisbahnya, Al-Auzaāi, nisbah ke daerah Al-Auzaā, salah satu wilayah di Damaskus. Beliau dilahirkan pada tahun 88 H dan mengalami masa kanak-kanak dalam keadaan yatim. Namun, sejak kecil, beliau senantiasa berusaha memperbaiki diri. Sebagaimana layaknya ulama lainnya, beliau melakukan perjalanan menuju Yamamah dan Bashrah sebagai petualangan dalam menuntut ilmu. Guru dan murid Al-Auzaāi Beliau mengambil hadis dari Athaā bin Abi Rabah, Qasim bin Makhimarah, Syaddad bin Abu Ammar, Rabiāah bin Yazid, Az-Zuhri, Muhammad bin Ibrahim At-Taimi, Yahya bin Abi Katsir, dan sejumlah ulama besar dari kalangan tabiin lainnya. Diceritakan juga bahwa beliau sempat mengambil hadis dari Muhammad bin Sirin di waktu Muhammad bin Sirin sakit. Sementara, daftar para ulama yang menjadi murid beliau antara lain Syuābah, Ibnu Mubarak, Walid bin Muslim, Al-Haql bin Ziyad, Yahya bin Hamzah, Yahya Al-Qaththan, Muhammad bin Yusuf, Al-Faryabi, Abu Al-Mughirah, dan sejumlah ulama lainnya. Pujian-pujian untuk Al-Auzaāi Selama hidupnya, Imam Al-Auzaāi lebih banyak disibukkan dengan berdakwah dan mengajarkan ilmu. Abu Zurāah mengatakan, āPekerjaan beliau adalah menulis dan membuat risalah. Risalah-risalah beliau sangat menyentuh.ā Walid bin Mazid mengatakan, āSaya belum pernah melihat beliau tertawa terbahak-bahak. Apabila beliau menyampaikan kajian yang mengingatkan akhirat, hampir tidak dijumpai hati yang tidak menangis.ā Beliau juga mengatakan, āSaya belum pernah melihat orang yang lebih rajin beribadah melebihi Al-Auzaāi.ā Al-Haql mengatakan, āAl-Auzaāi telah menjawab dan menjelaskan permasalahan.ā Sementara, Al-Kharibi mengatakan, āAl-Auzaāi adalah manusia terbaik di zamannya. Beliau layak untuk mendapat jabatan khilafah.ā Bisyr bin Mundzir mengatakan, āSaya melihat Al-Auzaāi seperti orang buta, karena khusyuknya.ā Disebutkan bahwa beliau menghidupkan malamnya dengan salat dan membaca Alquran sambil menangis. Nasihat-nasihat Al-Auzaāi Ada beberapa nasihat yang pernah disampaikan Al-Auzaāi, di antaranya Beliau pernah mengatakan kepada Walid bin Mazid, āApabila Allah menghendaki keburukan untuk suatu kaum, Allah membuka pintu suka berdebatā dan Allah sulitkan mereka untuk beramal.ā Beliau juga menjelaskan akidah ahlus sunnah, sebagaimana yang diceritakan oleh Muhammad bin Katsir Al-Mashishi, bahwa beliau mendengar Al-Auzaāi mengatakan, āKami dan para tabiin, semuanya, berpendapat bahwa Allah berada di atas Arsy, dan kami beriman terhadap semua keterangan tentang Allah yang terdapat dalam sunah.ā Beliau menasihatkan agar manusia senantiasa berpegang dengan sabda Nabi shallallahu alaihi wa sallam. Sebagaimana diriwayatkan Amir bin Yasaf, bahwa beliau mendengar Al-Auzaāi mengatakan, āApabila kamu mendengar hadis dari Nabi shallallahu alaihi wa sallam, janganlah kamu mengambil pendapat orang lain, karena beliau adalah mubalig penyampai berita dari Allah.ā Beliau juga menasihatkan, āTidaklah seseorang berbuat bidāah kecuali pasti akan dicabut sifat waraā-nyaā. Dari Abu Ishaq Al-Fazari, bahwa Al-Auzaāi menasihatkan, āAda lima hal yang dipegangi para sahabat dan tabiin berpegang teguh dengan jamaah pemerintah, mengikuti sunah, memakmurkan masjid rajin shalat berjamaah, membaca Alquran, dan berjihad.ā Ibnu Syabur mengatakan bahwa Al-Auzaāi pernah menasihatkan, āBarang siapa yang mencari-cari pendapat-pendapat aneh yang menyimpang dari para ulama, niscaya dia akan keluar dari Islam.ā Walid bin Mazid menceritakan bahwa Al-Auzaāi mengatakan, āCelakalah orang yang mendalami ilmu untuk masalah selain ibadah dan orang yang berusaha menghalalkan hal yang haram dengan syubhat.ā Beliau juga pernah berpesan dengan satu perkataan yang indah dan cukup terkenal, sebagaimana diriwayatkan oleh Walid bin Mazid; beliau mendengar Al-Auzaāi mengatakan, Ų¹ŁŁŁŁŁŁ ŲØŁŲ¢Ų«ŁŲ§Ų±Ł Ł
ŁŁ Ų³ŁŁŁŁŁ ŁŁŲ„ŁŁ Ų±ŁŁŁŲ¶ŁŁŁ Ų§ŁŁŁŲ§Ų³Ł ŁŁŲ„ŁŁŁŲ§ŁŁ ŁŲ±ŁŲ£ŁŁ Ų§ŁŲ±ŁŁŲ¬ŁŲ§Ł ŁŁŲ„ŁŁ Ų²ŁŲ®ŁŲ±ŁŁŁŁŁŁ ŲØŁŲ§ŁŁŁŁŁŁ ŁŁŲ„ŁŁŁŁ Ų§ŁŲ£ŁŁ
Ų±Ł ŁŁŁŲ¬ŁŁŁŁ ŁŁŲ£ŁŁŲŖŁ Ų¹ŁŁŁŁ Ų·ŁŲ±ŁŁŁŁ Ł
ŁŲ³ŲŖŁŁŁŁŁ
āBerpegang-teguhlah dengan atsar riwayat para ulama salaf, meskipun masyarakat menolakmu. Jangan mengikuti pemikiran manusia, meskipun mereka menghiasi ucapannya. Sesungguhnya, semua perkara akan tampak dalam keadaan engkau berada di jalan yang lurus.ā Wafatnya Al-Auzaāi Beliau sangat dimuliakan oleh Khalifah Al-Manshur. Khalifah sangat memerhatikan nasihat-nasihat Al-Auzaāi. Sampai akhirnya, beliau pernah ditawari untuk menjadi hakim oleh Khalifah, namun beliau menolaknya. Di akhir hayatnya, beliau berangkat ke Beirut dan melaksanakan tugas ribath menjaga daerah perbatasan dan meninggal dunia di sana. Warisan yang beliau tinggalkan ketika beliau wafat hanya enam dinar, dan itu merupakan sisa dari sedekah yang dia berikan. Semoga Allah merahmati Imam Al-Auzaāi. Adz-Dzahabi, Tadzkirah Al-Huffazh, Al-Maktabah Asy-Syamilah, no. urut 177 Artikel KLIK GAMBAR UNTUK MEMBELI FLASHDISK VIDEO BELAJAR IQRO, ATAU HUBUNGI +62813 26 3333 28
Sebenarnya banyak sekali mazhab fikih Ahlussunnah wal Jamaah di luar empat mazhab fikih mainstream yang kita kenal hari ini Syafii, Maliki, Hanbali, dan Hanafi,. Di luar empat mazhab tersebut terdapat sejumlah mazhab lain yang pernah tumbuh dan berkembang hingga abad ketiga hingga keempat Hijriyah. Karena satu dan lain hal, mazhab-mazhab fikih sunni di luar empat mazhab ini āmatiā. Tidak ada lagi sarjana-sarjana fikih yang meneruskan dan akhirnya tidak lagi menjadi mazhab yang diikuti oleh masyarakat. Salah satu dari mazhab fikih di luar empat mazhab adalah Madzhab Al-Awzaāi. Nama Al-Awzaāi bagi para pengkaji fikih tentu cukup familiar sebagaimana nama Abu Tsaur, Ishaq ibn Rahawaih, dan lain sebagainya yang namanya kerap disinggung dalam kitab-kitab lengkapnya adalah Abu Amr Abdurrahman bin Amr bin Yuhmid al-Awzaāi. Ia lahir di Baālabak sebuah kota di Libanon pada tahun 88 H/ 707 M. Sejak kecil ia tumbuh sebagai anak yatim dan miskin karena ditinggal ayahnya sejak ia masih balita. Ia tinggal di Baālabak bersama ibunya yang kemudian ibunya memboyongnya untuk pindah ke kota belajar kepada sejumlah pembesar tabiin generasi setelah sahabat Nabi seperti Athaā bin Abi Rabah, Qatadah, Al-Zuhri, dan lain sebagainya. Imam Al-Awzai ini dikenal memiliki peringai yang baik dan pengetahuan yang komplit. Murid-muridnya Imam Awzaāi cukup banyak. Sebagian besar di antaranya kelak menjadi ulama besar seperti Imam Malik bin Anas pendiri Mazhab Maliki, Sufyan Al-Tsauri, bahkan sekelas tabiin sekalipun seperti Imam Az-Zuhri juga belajar kepadanya lebih tepatnya saling belajar. Belajarnya Imam Az-Zuhri kepada Imam Awzaāi ini dalam disiplin ilmu hadis disebut sebagai riwayat al-akabir an ash-shaghair orang yang secara usia lebih tua belajar dan meriwayatkan hadis dari orang yang lebih muda.Meski sedemikian tingginya intelektualitas seorang Imam Awzaāi, akan tetapi ia tidak sebagaimana para pendiri mazhab empat mainstream yang banyak ditulis oleh para murid-murid dan pengikutnya. Sosoknya jarang sekali diulas secara khusus oleh para muridnya. Meski demikian, bukan berarti nama beliau tidak diulas dalam buku-buku sejarah para sarjana, sebut saja di antaran dalam karya-karya ensiklopedis seperti Thabaqat-nya Ibn Saād, Muruj Adz-Dzahab-nya Al-Masāudi, Hilyah Al-Awliyaā-nya Abu Nuāaim, hingga dalam sejumlah literatur tentang biografi para periwayat hadis seperti al-Bidayah wan-Nihayah, Tadzkirah al-Huffadz, at-Tahdzib dan lain satu upaya yang sangat berharga dalam menelusuri jejak Imam Al-Awzaāi adalah apa yang telah dilakukan oleh Syakib Arselan. Ia secara tekun meneliti manuskrip yang tersimpan di Berlin. Manuskrip tersebut, menurut Syakib Arselan, merupakan hasil salinan tangan dari Zainuddin bin Taqiyyudin bin Abdurrahman al-Khatib. Judul manuskrip yang diteliti oleh Syakib Arselan ini berjudul Mahasin Al-Masaāi fi Manaqib al-Imam Abi Amr al-Awzai, sebuah kitab yang ditulis oleh Abul Abbas Ahmad bin Muhammad bin Ahmad Al-Mushili hal ini Syakib Arselan mengatakanSelama dua tahun saya muthalaahā di sebuah perpustakaan di Berlin, di mana saya menemukan sebuah manuskrip berjudul āMahasin al-Masaāi, fi Manaqib al-Imam Abi Amr al-Awzaāiā. Kitab ini tanpa diberi keterangan siapa penulisnya, hanya saja di bagian akhir manukrip ini tertulis nama penyalin naskahnya, yaitu Zainuddin bin Taqiyyudin Abdurrahman Al-Khathib, di mana juga tercatat titi mangsa penyalinan naskah kitab ini yakni tahun 1048. Keterangan lain tentang penyalinnya juga tidak ditemukan dalam naskah ia melakukan muthalaah sebagian halaman dari kitab ini, memotret isinya, mengumpulkan dan akhirnya menerbitkan karya ini. Mengapa ia melakukan ini? Karena beberapa alasan, di antaranya Ini adalah naskah kitab satu-satunya yang menjelaskan biografi Imam Awzaāi, mungkin saja ada kitab lain selain kitab ini, hanya saja saya belum pernah melihatnya. Imam Awzaāi adalah ulama generasi pertama dalam jenjang mujtahid, posisinya setara dengan Imam Syafii, Imam Malik, Imam Ahmad, dan Imam Abu Hanifah. Imam Awzaāi adalah Imam bagi penduduk Syam -berdasarkan penuturan para sejarawan. Selain di Syam, masyarakat Andalusia juga dulu sempat menganut Madzhab Nadhim dalam al-Fihrisat menyebutkan dua kitab peninggalan Al-Awzaāi. Yaitu Kitab As-Sunan fil-Fiqh dan Kitab al-Masail fil-Fiqh. Hanya saja yang sampai kepada kita, menurut Ibn Nadhim, hanya sebagian āal-muqtabasatā yang terdapat pada sumber-sumber yang ditulis demikian, menurut Fuat Sezgin, Ibn Abi Hatim telah berhasil menyelamatkan sejumlah risalah surat yang ditulis oleh Al-Awzaāi untuk khalifah dan para wazir-nya. Risalah-risalah yang menggambarkan pandangan fikih Al-Awzaāi tersebut di antaranya sebagai berikutRisalah ila Ubaidillah, wazir Khalifah Al-Mahdi fi Mawidzah was-Sual ila Ubaidillah wazir khalifah al-Mahdi fi TanajRisalah ila Isa bin Ali fi Jawabi Man Dafaāa an NafsihiPenggalan Pemikiran Fikih Imam Al-AwzaiBagi para pembelajar fikih yang cukup banyak membaca literatur-literatur besar dan mendalam, maka akan mudah menemukan penjelasan mengapa mazhab fikih dalam kelompok sunni hanya dibatasi empat imam mazhab saja. Hal ini disebabkan oleh beberapa faktor, yang salah satunya adalah karena kitab-kitab empat imam mazhab ini terkodifikasikan dengan baik. Hal mana yang tidak terjadi dalam Mazhab Imam Awzaāi. Bahkan pengikut terbesarnya yang dulu berada di Syam dan Andalusia, konon hanya bisa bertahan sekitar 200 tahun. Setelah itu, masyarakat Syam berpindah menjadi pengikut Mazhab Syafiāi dan di Andalusia memilih Mazhab karena itu, corak pemikiran fikihnya Imam Awzaāi pun cukup sulit untuk dicari. Hanya saja, beberapa penggalan pendapatnya mudah untuk ditelisik dari beberapa karya tulis mengenainya. Salah satunya terdapat dalam kitab Mahasin Al-Masaāi fi Manaqib al-Imam Abi Amr al-Awzai yang disunting oleh Syakib satu bab dalam buku tersebut di beri judul fashlun fi dzikr baādh ma ikhtarahu al-awzaāi fasal sebagian pendapat fikih yang dipilih oleh Imam Al-Awzaāi. Dalam bab ini dijelaskan bahwa salah satu pendapat āunikā dari Imam Al-Awzaāi adalah ihwal dibolehkannya berwudhu dengan menggunakan ānabidzā alias perasaan anggur. Konon, pendapat ini didasarkan kepada salah satu hadis Nabi yang diriwayatkan oleh Ibn Masāud dimana saat itu hendak melakukan salat subuh ia ditanya oleh Nabi, āapakah kamu memiliki wudlu?ā Ibn Masāud menjawab, āTidak, tetapi aku memiliki sebuah tempat yang di dalamnya terdapat nabidzā. Lalu Nabi bersabda, āKurma yang suci, air perasannya bisa menjadi alat untuk bersuciā.Pendapat lain yang cukup berbeda dengan beberapa pendapat madzhab lain seperti Madzhab Imam Syafii adalah mengenai kesucian air baik sedikit maupun banyak meskipun tertimpa najis, dengan catatan air tersebut tidak berubah sebab terkena Auzaāi wafat pada hari ahad tanggal 28 bulan Safar tahun 157 H. Jenazahnya disemayamkan di belakang sebuah Masjid di Beirut yang diberi nama Masjid Imam Aālam bish-Shawab
Biografi Abu Amru Abdurrahman Al-Auzaāi Wafat 157 H Pada kesempatan kali ini penulis akan membahas tentang biografi Abu Amru Abdurrahman Al-Auzaāi. Beliau merupakan slah satu perawi hadits, selain itu beliau juga ahli fiqih. Untuk lebih jelasnya mari kita simaā biografi beliau. Nama Lengkap Nama sebenarnya adalah Abu amr Abdurahman bin amr Asy Syamy ad Dimasqy. Ia seorang fiqh di Syam di masanya. Dilahirkan pada tahun 88 H. Penduduk Syam dan Maghribi bermadzhabkan beliau sebelum bermadzhab dengan Malik. Beliau seorang Ulama Tabiāit Tabiāin, menerima hadits dari golongan Tabiāin yaitu Athaā bin Abi Rabah, Qatadah, Nafiā, az Zuhry, Yahya bin Abi Katsir dan yang laiinya. Diantara imam imam yang meriwayatkan hadits dari padanya yaitu Sufyan, Malik, Syuābah, Ibn Mubarak, dan yang lainnya. Baca juga Biografi Imam Abu Hanifah Para ulama sepakat bahwa al Auzaāiy seorang yang tinggi ilmunya dalam bidang hadits dan fiqh. Abdurahman ibn Mahdy berkata,ā tidak ada seorang alim tentang sunnah di Syam melainkan al Auzaāiyā. Huqal berkata,ā al Auzaāiy telah menjawab 1000 masalah dari pertanyaaan2 dan para ulama mengakui ketinggian ilmunyaā. Para ulama yang semasa dengan beliau mengatakan bahwa beliau adalah seorang imam dalam bidang hadits dan fiqh dan seorang yang berani berterus terang dalam mengemukakan kebenaran kepada para penguasa. Ia wafat pada tahun 157 di Beirut Disalin dari riwayat al Auzaāiy dalam Tahdzibul asma karya Karya an-Nawawi no 1 298
biografi imam al auza i